Anggota BPK ke Ulum Eks Aspri Nahrawi: Jangan Menuduh Tanpa Dasar dan Fakta

Anggota BPK ke Ulum Eks Aspri Nahrawi: Jangan Menuduh Tanpa Dasar dan Fakta

Bandar Q, Agen QQ, Bandar Qiu Qiu, Domino QQ, Capsa Susun– Miftahul Ulum, asisten pribadi bekas Menteri Pemuda serta Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menyebutkan ada saluran dana ke pelaku Tubuh Pemeriksa Keuangan (BPK) serta Kejagung dalam masalah dana hibah KONI. Anggota BPK Achsanul Qosasi minta Ulum tidak melempar dakwaan tanpa ada bukti.

“Masalah ini ialah Masalah dana Hibah KONI yang dicheck oleh BPK tahun 2016. Kontrol Hibah KONI belum periode saya. Surat Pekerjaan Kontrol tidak dari saya. Saya mengecek Kemenpora di tahun 2018 untuk kontrol Laporan Keuangan, ” kata Achsanul dalam penjelasannya, Sabtu (16/5/2020).

Achsanul akui tidak mengenali Ulum. Ia mengharap dapat berjumpa Ulum untuk mengonformasi kesaksiannya itu.

“Saya tidak mengenal saudara Ulum serta belum pernah melakukan komunikasi dengan ia. Saya akan suka bila saya berjumpa saudara Ulum untuk mengkonformasi perkataan serta tuduhannya, ” katanya.

Achsanul minta Ulum tidak mendakwa tanpa ada fundamen. Ia mengharap proses hukum masalah KONI berjalan dengan fair.

“Mudah-mudahan saudara Ulum dapat mengemukakan kebenaran yang sebenarnya, jangan melempar dakwaan tanpa ada fundamen serta bukti yang sebetulnya. Serta saya memberikan dukungan proses hukum masalah KONI ini berjalan mulus serta fair, tanpa fitnah kepada pihak lain, termasuk juga saya sendiri, ” katanya.

Awalnya, Miftahul Ulum mengaku terima uang dari bekas Bendahara Umum KONI Johnny E Awuy. Ulum jadi saksi untuk terdakwa bekas Menpora Imam Nahrawi yang dituduh terima suap sejumlah Rp 11, 5 miliar serta gratifikasi Rp 8, 648 miliar dari beberapa petinggi Kemenpora serta KONI.

Baca juga : Pikap Nekat Angkut Pemudik Ketahuan di Pelabuhan Merak, Mobil Disita Polisi

Dalam tuduhan, Bendahara KONI Johnny E Awuy disebut mengirim Rp 10 miliar serta sesuai dengan instruksi Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy, uang Rp 9 miliar diberikan pada Imam lewat Miftahul Ulum, yakni sejumlah Rp 3 miliar diberi Johnny pada Arief Susanto sebagai suruhan Ulum di Kantor KONI Pusat ; Rp 3 miliar berbentuk 71.400 dolar AS serta 189.000 dolar Singapura diberi Ending lewat Atam pada Ulum di Lapangan Golf Senayan ; serta Rp 3 miliar dimasukkan ke amplop-amplop diberi Ending ke Ulum di lapangan badminton Kemenpora RI.

Menurut Ulum, faksi KONI serta Kemenpora telah punyai persetujuan untuk memberi beberapa uang ke BPK serta Kejaksaan Agung untuk menangani beberapa panggilan ke KONI oleh Kejaksaan Agung.

“Yang mengakhiri dari Kemenpora itu salah satunya Asdep Internasional di Kejaksaan Agung yang umum terkait sama orang kejaksaan itu, lalu ada pula Yusuf atau Yunus, jika yang ke Kejaksaan Agung ada juga Ferry Kono yang saat ini jadi Sekretaris KOI (Komite Olimpiade Indonesia), ” jawab Ulum menjawab jaksa Agus Jaksa Penuntut Umum Komisi Pembasmian Korupsi (KPK) Agus Prasetya dalam persidangan, Jumat (15/5/2020).

Menurut Ulum, dia menolong menemukan uang Rp 3 miliar-Rp5 miliar dari keperluan Rp 7 miliar-Rp9 miliar.

“Sebab persoalan itu, KONI minta proposal pemantauan serta pendampingan itu, ” tutur Ulum.

Ulum juga mengatakan uang itu diberi ke sejumlah pelaku di BPK serta Kejaksaan Agung.

“BPK untuk inisial AQ yang terima 3 miliar itu, Achsanul Qosasi, jika Kejaksaan Agung ke Andi Togarisman, kemudian KONI tidak dipanggil oleh Kejagung, ” tutur Ulum.