Menyikapi Hasil Quick Count, Inkonsistensi Pendukung Kandidat Dikritik

Menyikapi Hasil Quick Count, Inkonsistensi Pendukung Kandidat Dikritik

JAKARTA – Acara Pemilihan presiden 2019 sudah berjalan dengan baik serta proses rekapitulasi hitungan nada dari setiap TPS tengah berjalan ke arah level di atasnya. Akan tetapi, penduduk sudah dibantu dengan timbulnya hasil kalkulasi cepat atau quick count beberapa instansi survey.

Instansi Survey Ide Indonesia (Konsepindo) lewat quick count yang mengatakan Jokowi-Ma’ruf unggul atas pasangan Prabowo-Sandi. Dengan data nada masuk sekitar 99,05 %, paslon nomer urut 01 itu memperoleh nada sekitar 53,9 % sedang paslon nomer urut 2 memperoleh 46,1 % nada.

Manajer Penelitian Instansi Survey Ide Indonesia Safraji mengemukakan, kedatangan quick count dengan berbasiskan cara ilmiah yang dapat mengkalkulasi dengan cepat serta tepat hasil penentuan umum di hari pengambilan suara dapat penuhi perasaan ingin tahu penduduk tentang hasil Pemilu.

Di lain sisi dapat juga dipakai menjadi data pembanding perhitungan sah KPU. Quick count berperan menjadi kontrol yang bisa meminimalkan kecurangan dalam hitungan nada. Quick count atau kalkulasi cepat adalah tehnik pemantauan hasil hitungan nada di TPS yang dikerjakan dengan ilmiah.

Baca Juga : Giliran Pemain Muda Tottenham Unjuk Gigi Lawan City?

“Quick count salah satu pilihan untuk memberi info yang cepat serta tepat tentang hasil Pemilu. Tidak hanya penuhi perasaan ingin tahu penduduk, quick count penting juga untuk memverifikasi serta mengecheck peluang kecurangan saat hitungan nada. Dengan perhitungan statistik serta berbasiskan tehnologi data, quick count adalah langkah yang sangat cepat, praktis, gampang, tepat, serta bisa diakui untuk tahu hasil Pemilu,” tuturnya pada wartawan di kantornya di lokasi BSD City, Jumat (19/4/2019).

Safraji memberikan, berdasar pada pengalaman beberapa Pemilu baik di tingkat nasional, propinsi ataupun kabupaten/Kota, quick count sudah dapat dibuktikan membuahkan data yang hampir sama dengan hasil hitungan yang dikerjakan oleh KPU dengan mengikutkan semua TPS.

“Prinsipnya ialah pada pemakaian cara yang benar serta mekanisme yang ketat. Konsepindo sendiri untuk quick count pemilihan presiden 2019 turun di 2.000 TPS. Sampel diambil memakai cara multistage acak sample dengan margin of error sebesar ± 1 %, pada tingkat keyakinan 99 %,” katanya.

Waktu di tanya tentang jumlahnya simpatisan Prabowo yang tidak meyakini hasil quick count, Safraji memandang hal tersebut bukan permasalahan. Menurut dia instansi survey cuma menyediakan data, ingin diolah ataukah tidak, itu hak penduduk. Akan tetapi menurut dia, sesudah lihat media sosial, banyak pula penduduk yang standard ganda.

“Waktu calon yang didukungnya dikatakan unggul oleh quick count mereka memberi dukungan dengan keras, lantas waktu calon yang didukungnya kalah dalam quick count, mereka memaki bahkan juga menuduh instansi survey bayaran. Contoh itu dapat disaksikan waktu quick count pemilihan kepala daerah DKI, semua yakin waktu itu. Yang unggul mengaku, yang kalah pun mengaku,” ujarnya.